Apa yang terlintas dalam pikiran gue saat mendengar kata
pengajian? Ada ustadnya yg sangat terlihat suci dengan baju koko putihnya (yang baru dicuci pake bayclin sampai kinclong, karna menganut prinsip makin putih makin suci) beserta sarung dan sorban atau pecinya, persis seperti seragam FPI. Trus kita harus rela duduk lesehan lama banget sampe kesemutan dengerin doi ceramah dengan logat sok2 Zainuddin MZ plus baca alquran yang kalo salah dikit aje pake dibahas segala. Since gue ga bisa baca alquran, maka pengajian adalah salah satu hal yang paling males gue datengin. Apalagi ditambah harus ngedengerin ustad yang berasa Tuhan, yang tau segalanya, seneng banget membuat orang merasa bersalah, terus2an menekankan bahwa kita adalah manusia yang hina dina, we dont deserve the heaven, serta segala macem omongan provokatif yang mengadu domba antar agama. Sorry to say, i wouldnt find the will in myself to hear all those piece of shit.
Tapi hari ini, Sunday, may 23rd 2010 for the very first time in my whole 19 years life, gue akhirnya dateng juga ke sebuah pengajian yang diadakan oleh seorang sosialita di bilangan pondok indah.
Apa yang gue liat sama denger disana? Sama sekali bertolak belakang dengan persepsi gue selama ini. jarang sekali gue ngeliat pemandangan orang berjilbab disana, paling kalaupun ada hanya segelintir orang. Bahkan pemimpin pengajian pun cuma memakai safari sederhana, tidak berwarna putih, tidak bersarung, dan tanpa peci. oya, dia juga ga ngomong dengan logat kaya aa gym atau ustad jefri. malahan yang membuat pengajian ini berbeda, dia berbicara secara bilingual, karna terselip beberapa bahasa inggris (bukti bahwa dia tidak memojokkan amerika).
Acara dibuka dengan cemal cemil gorengan. Kemudian ceramah, dan makan lagi (kali ini bukan hanya gorengan tentunya). Thats it, ga ada tuh acara baca alquran atau orasi yang menjelek2an agama lain segala.
The speaker,
Bakir adalah seorang petinggi di universitas paramadina. Dia menolak untuk disebut sebagai ustad, kenapa? Karena ustad adalah orang yang sangat pintar sekali memanipulasi pikiran bahwa kita, manusia adalah makhluk yang luar biasa berdosa. (gue setuju dengan statement ini, mungkin akan gue post di tumblr sebagai salah satu quote, haha)
Well, memang tidak bisa dipungkiri kalau kita manusia memang berdosa, but we’re all grown ups right? Tanpa dikasihtaupun kita udah tau kalo kita dosa. Sama kaya anak kecil yang mecahin gelas, dia udah tau kok kalo dia salah, then whats the point of tick them off?
Beberapa ustad sadar atau tidak sadar sering menanamkan dalam diri pendengarnya bahwa Tuhan adalah sosok yang pemarah. Tuhan akan marah kalau kamu ga bersyukur, Tuhan akan marah kalau kamu ga beribadah, Tuhan akan marah kalau kamu jauh dariNya. Dan hanya neraka yang akan diberikan Tuhan kepada kita. Tapi apa yang pak Bakir katakan?
GOD LOVES US VERY MUCH, UNCONDITIONALLY. Sehina apapun kita, Dia akan tetap sayang sama kita. He’s like our parents, our father. No matter how tremendous our sin is, Dia akan tetep maafin kita. Tuhan itu adalah sosok yang bijaksana, Dia bukan manusia yang punya keterbatasan atas rasa sabar.
Here’s couple of things that lingers on my mind, first of all was when this guy questioning, how to develop the long to God? Karena doi ngerasa berdosa banget rasa rindu sama kampung halaman ternyata lebih mendominasi daripada rindunya ke Tuhan.
Ini yang gue suka dari pak Bakir, dia dengan sangat santai, bijaksana, dan melegakan, tanpa membuat orang semakin merasa berdosa, dia jawab gini: Perasaan itu muncul karena kita seringkali memotong atau memisahkan relasi (in this case) Tuhan dan kampung halaman, karena mungkin kita pikir itu adalah sesuatu yang berbau duniawi. Padahal apapun itu, keluarga kita, orang yang kita sayang, alam, bahkan hewanpun adalah potret diri Tuhan. ciptaan yang menggambarkan kebesaranNya. Lets make it clear, imagine that you’re going to USA and you will definitely miss your mom. Hal yang paling mungkin lo lakuin is bring her picture with you away to USA. And you can always stare at her picture everytime you miss your mom. Elo pasti ga ngerasa kangen sama fotonya kan? But you miss someone in that picture instead. Ya jadi sama aja, kalau bapak merasa kangen kampung halaman, ya lanjutkan aja. Karena alam kampung halaman yang indah itu juga adalah Tuhan. The point is God is related to every single thing in this world. Jadi kita ga perlu merasa bersalah karena seolah2 kita lebih merindukan hal2 duniawi.
Hal kedua yang nyantol di gue adalah tentang wish. Sometime we intentionally menjauh dari Tuhan karena merasa terlalu berdosa untuk menghadap Dia. Ataupun kadang kita merasa marah karena dia ga mengabulkan apa yang kita minta dan memutuskan hubungan kita dengan Tuhan (a.k.a ngambek). Sebenernya hal ini yang harus diluruskan,
Tuhan itu seneng kalo kita bisa berkomunikasi sama Dia, kadang kalau Dia lagi ngerasa kangen, dia akan memberi sedikit sentilan sama kita either in a good way or bad way, so we could turn to Him, berkomunikasi lagi sama Dia.
Kita pasti sering ngerasa, kenapa gue udah doa tiap hari minta ke Tuhan, tapi ga pernah dikasih. Trus ngambek jadi ga mau doa lagi. Why do you think God didnt make your wish come true? Sebenernya sih Tuhan tau kebutuhan kita, tau apa yang kita inginkan, tapi dia menunggu sampai kita menyampaikan sendiri ke Dia. Karena sebenernya Tuhan itu suka banget ngedenger suara manusia yang memohon padaNya. He wants us to feel that we need Him. We’re nothing without Him. Dan Dia ingin mendengar permohonan itu terus sampai kita bener2 desperate. Tuhan ingin kita bener2 meyakinkan diri kita apa ini yang kita inginkan. Dan Dia akan menahan keinginan kita untuk terkabul sampai kita bener2 not only wanting but also desiring. Tapi toh Tuhan tau yang terbaik buat kita, He wouldnt give something that’s not the best for us, indeed. Ibaratnya kaya anak umur 5 taun minta nikah sama bapaknya. Bapaknya pasti ga akan ngasih sampai si anak itu bener2 siap.
Kita juga sering ngerasa ga puas sama apa yang kita miliki atau apa yang menimpa kita, tapi kita marah ke Tuhan dengan cara memutuskan komunikasi, itu cara yang salah. Sebenernya kalo kita mau marah ke Tuhan ya marah aja, itu kan suatu bentuk komunikasi. And He loves it, then why not? Marah ke Tuhan ga lantas bikin kita jadi dosa kok, Tuhan akan menjawab kemarahan kita dengan caraNya sendiri.
PS: i wouldnt take any of your question karna apa yang gue tulis Cuma menyampaikan apa yang dibilang pak Bakir, jadi kl lo pada nanya gue juga ga bakal tau apa jawabannya, hehee..