Sunday, January 2, 2011

sisipan temporer

remuk luruh redam

ku terjaga di penghujung senggang

terlunglai pasrah dipecat waktu

sungguh aku enggan angkat kaki

tapi toh akan disita juga tahtaku nanti

di atas skenario ini

namaku termaktub

sangkaku tokoh utama

ternyata seharga figuran

cerminan ranah rumah singgah hayat

atau hamparan pasir ruang rehat ombak

terpasung dalam belanga bertajuk luang

berharap sementara setempo dengan kekal

mungkin bersampul intermezzo

serupa pariwara yang merentang jurang

celahi satu fiksi

tak lebih dari selingan yang selamanya

akan ditunggangi predikat ‘hanya’

Monday, August 16, 2010

17 Agustus

Bukan sekedar pesta hingar bingar hari lahir

Bukan hanya tentang ritual tahunan kewarganegaraan

di lapangan terbuka

Atau bersimpuh takzim dihadap Sang Saka

Bukan juga penghormatan bagi pendahulu

dalam hening cipta tanpa makna

Melainkan panggilan bagi bayangkara negeri

Agar cita-cita sebagai bangsa yang dielukan dibawah lampu sorot

bukan lagi mimpi yang ilusif

Maka saudaraku, mari serentak lanjutkan darma

Memadu dan meletupkan kembali

sisa-sisa perjuangan mereka

yang gadaikan nafas demi satu kata,

MERDEKA!

Sunday, May 23, 2010

Pelajaran Pagi Ini

Apa yang terlintas dalam pikiran gue saat mendengar kata pengajian? Ada ustadnya yg sangat terlihat suci dengan baju koko putihnya (yang baru dicuci pake bayclin sampai kinclong, karna menganut prinsip makin putih makin suci) beserta sarung dan sorban atau pecinya, persis seperti seragam FPI. Trus kita harus rela duduk lesehan lama banget sampe kesemutan dengerin doi ceramah dengan logat sok2 Zainuddin MZ plus baca alquran yang kalo salah dikit aje pake dibahas segala. Since gue ga bisa baca alquran, maka pengajian adalah salah satu hal yang paling males gue datengin. Apalagi ditambah harus ngedengerin ustad yang berasa Tuhan, yang tau segalanya, seneng banget membuat orang merasa bersalah, terus2an menekankan bahwa kita adalah manusia yang hina dina, we dont deserve the heaven, serta segala macem omongan provokatif yang mengadu domba antar agama. Sorry to say, i wouldnt find the will in myself to hear all those piece of shit.

Tapi hari ini, Sunday, may 23rd 2010 for the very first time in my whole 19 years life, gue akhirnya dateng juga ke sebuah pengajian yang diadakan oleh seorang sosialita di bilangan pondok indah.

Apa yang gue liat sama denger disana? Sama sekali bertolak belakang dengan persepsi gue selama ini. jarang sekali gue ngeliat pemandangan orang berjilbab disana, paling kalaupun ada hanya segelintir orang. Bahkan pemimpin pengajian pun cuma memakai safari sederhana, tidak berwarna putih, tidak bersarung, dan tanpa peci. oya, dia juga ga ngomong dengan logat kaya aa gym atau ustad jefri. malahan yang membuat pengajian ini berbeda, dia berbicara secara bilingual, karna terselip beberapa bahasa inggris (bukti bahwa dia tidak memojokkan amerika).

Acara dibuka dengan cemal cemil gorengan. Kemudian ceramah, dan makan lagi (kali ini bukan hanya gorengan tentunya). Thats it, ga ada tuh acara baca alquran atau orasi yang menjelek2an agama lain segala.

The speaker, Bakir adalah seorang petinggi di universitas paramadina. Dia menolak untuk disebut sebagai ustad, kenapa? Karena ustad adalah orang yang sangat pintar sekali memanipulasi pikiran bahwa kita, manusia adalah makhluk yang luar biasa berdosa. (gue setuju dengan statement ini, mungkin akan gue post di tumblr sebagai salah satu quote, haha)

Well, memang tidak bisa dipungkiri kalau kita manusia memang berdosa, but we’re all grown ups right? Tanpa dikasihtaupun kita udah tau kalo kita dosa. Sama kaya anak kecil yang mecahin gelas, dia udah tau kok kalo dia salah, then whats the point of tick them off?

Beberapa ustad sadar atau tidak sadar sering menanamkan dalam diri pendengarnya bahwa Tuhan adalah sosok yang pemarah. Tuhan akan marah kalau kamu ga bersyukur, Tuhan akan marah kalau kamu ga beribadah, Tuhan akan marah kalau kamu jauh dariNya. Dan hanya neraka yang akan diberikan Tuhan kepada kita. Tapi apa yang pak Bakir katakan? GOD LOVES US VERY MUCH, UNCONDITIONALLY. Sehina apapun kita, Dia akan tetap sayang sama kita. He’s like our parents, our father. No matter how tremendous our sin is, Dia akan tetep maafin kita. Tuhan itu adalah sosok yang bijaksana, Dia bukan manusia yang punya keterbatasan atas rasa sabar.

Here’s couple of things that lingers on my mind, first of all was when this guy questioning, how to develop the long to God? Karena doi ngerasa berdosa banget rasa rindu sama kampung halaman ternyata lebih mendominasi daripada rindunya ke Tuhan.

Ini yang gue suka dari pak Bakir, dia dengan sangat santai, bijaksana, dan melegakan, tanpa membuat orang semakin merasa berdosa, dia jawab gini: Perasaan itu muncul karena kita seringkali memotong atau memisahkan relasi (in this case) Tuhan dan kampung halaman, karena mungkin kita pikir itu adalah sesuatu yang berbau duniawi. Padahal apapun itu, keluarga kita, orang yang kita sayang, alam, bahkan hewanpun adalah potret diri Tuhan. ciptaan yang menggambarkan kebesaranNya. Lets make it clear, imagine that you’re going to USA and you will definitely miss your mom. Hal yang paling mungkin lo lakuin is bring her picture with you away to USA. And you can always stare at her picture everytime you miss your mom. Elo pasti ga ngerasa kangen sama fotonya kan? But you miss someone in that picture instead. Ya jadi sama aja, kalau bapak merasa kangen kampung halaman, ya lanjutkan aja. Karena alam kampung halaman yang indah itu juga adalah Tuhan. The point is God is related to every single thing in this world. Jadi kita ga perlu merasa bersalah karena seolah2 kita lebih merindukan hal2 duniawi.

Hal kedua yang nyantol di gue adalah tentang wish. Sometime we intentionally menjauh dari Tuhan karena merasa terlalu berdosa untuk menghadap Dia. Ataupun kadang kita merasa marah karena dia ga mengabulkan apa yang kita minta dan memutuskan hubungan kita dengan Tuhan (a.k.a ngambek). Sebenernya hal ini yang harus diluruskan, Tuhan itu seneng kalo kita bisa berkomunikasi sama Dia, kadang kalau Dia lagi ngerasa kangen, dia akan memberi sedikit sentilan sama kita either in a good way or bad way, so we could turn to Him, berkomunikasi lagi sama Dia.

Kita pasti sering ngerasa, kenapa gue udah doa tiap hari minta ke Tuhan, tapi ga pernah dikasih. Trus ngambek jadi ga mau doa lagi. Why do you think God didnt make your wish come true? Sebenernya sih Tuhan tau kebutuhan kita, tau apa yang kita inginkan, tapi dia menunggu sampai kita menyampaikan sendiri ke Dia. Karena sebenernya Tuhan itu suka banget ngedenger suara manusia yang memohon padaNya. He wants us to feel that we need Him. We’re nothing without Him. Dan Dia ingin mendengar permohonan itu terus sampai kita bener2 desperate. Tuhan ingin kita bener2 meyakinkan diri kita apa ini yang kita inginkan. Dan Dia akan menahan keinginan kita untuk terkabul sampai kita bener2 not only wanting but also desiring. Tapi toh Tuhan tau yang terbaik buat kita, He wouldnt give something that’s not the best for us, indeed. Ibaratnya kaya anak umur 5 taun minta nikah sama bapaknya. Bapaknya pasti ga akan ngasih sampai si anak itu bener2 siap.

Kita juga sering ngerasa ga puas sama apa yang kita miliki atau apa yang menimpa kita, tapi kita marah ke Tuhan dengan cara memutuskan komunikasi, itu cara yang salah. Sebenernya kalo kita mau marah ke Tuhan ya marah aja, itu kan suatu bentuk komunikasi. And He loves it, then why not? Marah ke Tuhan ga lantas bikin kita jadi dosa kok, Tuhan akan menjawab kemarahan kita dengan caraNya sendiri.


PS: i wouldnt take any of your question karna apa yang gue tulis Cuma menyampaikan apa yang dibilang pak Bakir, jadi kl lo pada nanya gue juga ga bakal tau apa jawabannya, hehee..

Thursday, April 29, 2010

dont you think so?


Me personally, bukan tipe orang yang suka mengkotak-kotakkan orang dengan label agama. First of all id like to say im sorry if i talk about hard stuff lately, tapi gue emang lagi pengen ngebahas permasalahan yang sejak dulu jadi pertanyaan gue.

I grew up in a community where i was the minority. i attended a catholic school from kindergarten to high school. Well, there’s a moslem school actually right beside my school, but it was way too expensive for my mom to put me into it by that time.

Selama beberapa tahun yang ga bisa dibilang sebentar itu, gue belajar sesuatu yang bukan keyakinan gue, karna itu emang udah jadi kebijakan sekolah. Dan gue sama sekali gak keberatan. Its just no different than learning history to me. As a result gue jadi lebih mengenal cerita-cerita tentang Yesus dibanding nabi muhammad, gue lebih familiar sama alkitab daripada alquran (i cant even read it, haha). Pokoknya selama gue masih pake seragam sekolah, agama sama sekali belum pernah jadi masalah buat gue.

Tapi semakin gue tumbuh, i sort of feel like it become such a big deal for almost everyone around me. And I couldnt stop my mind from asking why.

Gue termasuk orang yang harus bersyukur karna selama di sekolah gue ga pernah menerima perlakuan tidak wajar karna agama. Gue banyak banget ngeliat orang2 islam fanatik yang suka banget mendiskriminasi orang non islam, menganggap hanya agama islam yang bisa masuk surga, bla bla bla. Itu semua sempet bikin gue benci agama islam dan pengen pindah agama, i even told my friends that i was christian walaupun cuma sementara dan waktu itu gue masih ga ngerti apa-apa, secara gue masih baru lulus TK. Tapi makin kesini, ada juga oknum-oknum yang pernah bilang ‘sha, udahlah lo bertobat aja’ what the hell do you mean with bertobat man?? Jadi menurut lo gue selama ini lagi ngelakuin dosa gitu dengan menganut apa yg gue yakini? Okay, i see ternyata bukan islam aja yang menganut kefanatikan disini.

When i attend the college, gue agak kaget juga ternyata beberapa orang yang memegang teguh keidealisan mereka dengan tidak menganut keyakinan apapun itu ada di deket gue, even they do still believe in the existence of God.

When it comes to something more intense, which is love, fortunately, ive never had any problem with love and religion. Meskipun sampai skarang gue belum pernah punya pacar yang seagama, it doesnt really matter to us, we both didnt give a shit anyway, i just loved them. And i was very much grateful that creed have never been the excuse to go our separate ways. But it did to one of my bestfriend. And it really hurt her badly.

Yes, this is my bottom line. Religious differentiation. People go to war for it, someone gets discriminated, and even a love could be apart just because of it. It makes me wonder, why did God create such thing as religion, if it just divide something that supposed to be unite?

Sampai beberapa hari yang lalu, my movie freak kind of friends unintentionally suggest me to buy an indie movie called cin(T)a, you could read the review here, and watch the trailer also ;)

I really love the story line, it somehow stung me. I feel like this is a way God has chosen to explain everything to me. And i really adore His unique way to answer my arrogance. I finally see that through the differences of our religion, (maybe) God was testing us, to see if we could still stay together in unite, God is teaching us how to have a respect for others, for what they’ve chosen. He would like to see that if they choose to be in the opposite of where we stand, what will we do to deal with it. Would we be willing to embrace them in peace or would we go for a war?

I finally understand that if you have to be apart from someone you love, maybe it was supposed to be that way. Maybe you both didnt meant to be together. Everything happens for some reason, right? Some of it are not understandable i know. And religion might look as the main point to say goodbye, but infact it just the way God has chosen to take you away from the one that is not the best one for you. Now you must be questioning, ‘then why did we ever met from the first place?’ hmm, thats a good point, but guess i got the best answer ‘as contraries are known by the contraries, the joy when you found the best one is best known by the agony of separation, the torments of losing. God is teaching you how to value the love He would give you through someone’s better.‘

That is why i really like one of the quotes in cin(T)a, it said ‘in my arrogance, i question Your wisdom’. I feel like i have to cut it out, Tuhan itu udah makhluk yang paling bijaksana di seluruh.. hmm.. seluruh apa ya? Seluruh dunia dan akhirat kali ya? But im sure its a lot lot more wider. Whatever He create is the very best for all of us. Ga usah lah gue berusaha menyamai Dia, cause it something absolutely impossible right? I have to let it just the way it is.

I love You, dear God. I really do :)

Tuesday, April 27, 2010

stop violence!

last evening i went home with trans jakarta. gue sebenernya lebih prefer make angkot ketimbang busway since i moved to LSPR campus B. tapi karna kali ini gue lagi mau nunggu di ratu plaza, so i took trans jakarta supaya gue ga usah nyebrang dua kali.

when i walked down the bridge, i saw sort of callous crowd of man. some of them were wearing security uniform. i was spontaneously wondering as i walked closer towards them.
i took a quick glance, seketika seluruh bagian dari kedua badan dan pikiran gue diliputi kengerian. i couldnt stand staring for much longer. dan gue seperti disadarkan 'hey, this is real. its not like a fake murder scene you see in a movie'. well, its not really a murder scene actually. lebih tepatnya violence.

kerumunan pria berseragam itu lagi asik banget mengadili seorang copet yg ketangkep basah. yea, i could say that they looked heartlessly enjoying what they're doing.
i couldnt imagine that i was so close to something that i usually seen on tv. something yang gue pikir jauh dari gue, yang kalaupun emang ada, gue ga akan ngeliat secara langsung.

dari kejadian itu, ada beberapa pro dan kontra yang melintas di kuping gue.
yang satu adalah mahasiswa, just like me, but older i think, hes kinda with me. "kasian ya, biar gimana itu orang kan punya hak asasi"
then the other was a young employee, maybe around 30. who said "udah bunuh aja. pukulin aja sampe mati orang kaya gitu mah."
i was like gilaa, gampang banget lo ngomong bunuh aja! where's your heart man? did you left it on the trash can or something??
si mahasiswa kembali menimpali "tapi kan bisa dibawa aja ke polisi mas"
karyawan ga mau kalah "percumaa nanti di polisi juga digebukin lagi"
trus gue mikir, masa sih polisi juga bakal kaya gitu? well, kalaupun iya seenggaknya kalo langsung dibawa ke polisi kan cuma sekali dia dipukulinnya. hehe..

tapi gue tetep setuju sama si mahasiswa, buat apa ada undang-undang HAM kalo toh akhirnya warga negara indonesia ga bisa diperlakukan seperti yang seharusnya tertera disitu??
meskipun itu copet yang bisa aja ngambil apa yang menjadi hak milik gue, gue ga akan tega nyuruh petugas2 itu untuk ngeroyok dia. itu nggak manusiawi. sangat sangat tidak manusiawi. gue termasuk orang yang againts violence. gue sangat amat terganggu dengan kejadian itu.
tolong ya siapapun elo, mau petugas keamanan kek, polisi, atau bahkan presiden sekalipun GA BERHAK MENGADILI SESEORANG DENGAN TIDAK SEWAJARNYA! kaya gini nih yg dinamain negara hukum hah??
rasanya pengen gue tereakin banget itu orang2 pengecut yg bisanya nyelesaiin masalah dgn kekerasan.
YOU HAVE NO RIGHTS TO ANYONE'S LIFE, EVEN IF THEY'RE A THIEF, ROBBER, SLUT, OR EVEN A SERIAL KILLER!

a friend responded my statement straight away, he said "see if someone took one of your loved ones"
tapi gue dgn pintarnya (haha) menjawab "i was talking about rights, no matter how bad we want to avenge, we still have no rights to kill them"

jujur gue bukan orang katolik atau kristen, but i grew up in a community where they are the majority, makanya gue lebih familiar sama kisah-kisahnya Jesus, dan gue suka banget sama salah satu cerita di injil, when Jesus met this prostitute yang lagi dirajam sama warga. itu cewe udah siap-siap mati deh ya. untung aja ada penyelamat. Dia menghentikan warga, berdiri ditengah-tengah si pelacur dan orang-orang, then He said wisely "bagi yang merasa tidak berdosa, silakan lempari gadis ini dengan batu sampai mati"

well, its not really what He said actually, tapi ya kira-kira gitu deh. gokil ye? orang sesuci Jesus aja bisa bersikap memanusiakan orang yang sebenernya ga pantes dimanusiakan.
Ya menurut lo aja yaa, setelah baca cerita itu lo masih bisa gitu sok-sokan merasa lebih tidak berdosa dari seorang Jesus atau nabi Isa dengan tetep melakukan kekerasan? coba dong lebih merendahkan hati sedikit aja. who the hell do you think you are?? merasa lebih hebat lo dari Tuhan sampe berani mengadili orang lain??

Sunday, April 18, 2010

yeah im talking about you, aro

Rasanya gue pengen ketawa

Ketawa sekenceng-kencengnya depan muka seorang cewe. Ngetawain segala ego yang dia pertahankan.

Dan di sisi lain gue juga pengen nangis

Nangis sekejer-kejernya. Ngeluarin apa yang selama ini gue simpen. Crying over what happened and what didnt.

Ya, gue sengaja dateng memenuhi undangan dr dia. And i couldnt fool myself that there’s somewhere a part of me missing him so badly. Tapi sekali lagi sebagian yang lain ga mau orang lain tau kalo gue segitu pengennya ketemu dia, ga mau sengaja terlihat begitu mempersiapkan diri untuk ketemuan.

I came with unidentified feeling, i couldnt stop my eyes from scanning all over the room looking for any sight of his presence, tetap dengan segala kehati-hatian gue supaya ga ada yg nyadar kalo gue sebenernya lagi nyari dan nunggu dia.

My mind was filled with unwritten scenario about what i am going to say to him in any different case. But as you guys have guessed before, it did totally useless.

Dia bener-bener dateng nyamperin meja kita dengan sengaja sebelum naik ke panggung. I was startled, i didnt know what to say, i didnt know what to do, i didnt even know how to act normal. He was still the same. With deep clear eyes, flawless face and a cute little flirty smile. Tapi gue jaim sok-sok cuek dengan kedatangannya yg cukup tiba-tiba. It was just a quick 'saying hello', and then he had to go prepare to get on stage.

And when he sing, i was nearly in tears. For no reason. Well maybe there was a reason, but i just couldnt figure it out yet. Yang tadinya gue janji sama diri gue sendiri untuk ga terpaku sama dia, mendadak mata gue ga bisa lepas dari dia, he was so stunning, it was like ‘screw all those fucking ego’ i only want to lock him in my eyes.

Gue pengen banget nangis denger suaranya. Gue ga bermaksud sok-sok kaya di film tapi seriously, gue ga bisa menghindari flashback yang muncul di otak gue seiring jalannya lagu. Gue harus ngakuin kalo gue emang sangat amat kehilangan dia. Bener-bener amat sangat kehilangan. Diem-diem gue berharap, ya Tuhan, bisa ga ya kita kaya dulu lagi? Gue...............sayang sama dia...........sayang banget. Semua kata-kata move on itu bohong, gue sama skali gak kemana-mana, gak gerak, i was stuck.

Kita pisah dengan cara yg nggak bisa dibilang baik. (kata pisah disini doesnt mean we break up, no, we're never even dating) I left him for no single reason. Gue tiba-tiba bersikap dingin...and just gone. All i was going to do is giving him 3 definite unspoken option.

  1. If he doesnt feel anything for me, then we could be friends. Im cool with that. But please, be a normal friend. And normal friend dont tease.
  2. If he really has a feeling for me, then dont leave me hanging with speculations my mind might uncontrollably made.
  3. But if he can not pick one of the 2 previous option, which he seemed tend to do by then, well we might be better act like we have never known each other.

Semalem, keliatan banget dia lagi ga mau ngebahas apa yang terjadi sama kita terakhir kali, we both acted like nothing happen. Tapi gue -dengan jahat dan angkuhnya- tetep bersikap dingin, sampe dia mungkin ngerasa ga nyaman. Obrolan kita bener-bener random, ga penting and dominated with long pauses. Kerasa banget dia pengen mencairkan suasana dengan berusaha nyari topik seadanya. Tapi gue tetep bertahan dengan sikap dingin gue.

but i couldnt hold it any longer, lama-lama gue luluh juga, walaupun ga bisa secair yang diharapkan. I was suddenly feel afraid as i act warmer. I was scared that we’re only about to do the same stupid mistake all over again. Gue takut ini akan berakhir sama. All we ever do is hurting each other. And as he seemed to be more mature now, i was still as childish as a stupid baby. Dan akhirnya gue pengen ngetawain diri gue sendiri waktu gue sadar, i was hurt by my very own pride, my overwhelmed stupid ego. Ironic doesnt it?


PS : i didnt anagram the name on the title, pretty frontal i know

Wednesday, April 7, 2010

love vs. pride


photo by : auroille

by the time you came to my life, i was ecstatic. because i finally understand how nice it could be to be adored by someone i always pictured as the perfect one, someone i always dreamed about.

tapi akhirnya toh gue memutuskan untuk pergi.
dan perlu lo tau, itu kali pertama gue bisa bener2 melepas semua hal yang berhubungan sama orang itu.
when i said 'SEMUA' it really means every single freaking thing.
yang biasanya gue ga bisa ngapus sms dari orang yg gue suka (even if it only contains of 2 letters, O and K) sekarang gue bahkan sanggup ngapus semua nomernya dia, segala macem sms, video dan foto2.
to be underlined, it was not without difficulty.
i put all those stuff into a box called the chronicle.
i let it flew hand in hand with time.

saat itu gue pikir gue menang, menang untuk bisa punya prinsip. gue merasa udah berubah -dari sasha yang dulu bisanya ngais sisa2 cinta yg dilepeh sama orang yang bahkan dari awal ga punya perasaan apa2 sama gue- jadi cewe independent yang bisa sayang sama dirinya sendiri. i thought i was saving myself from being a love slave.

but why do this question keep coming up resounded in my head
'was that really THE COURAGE FOR BEING SELF CONVICTED or just A PIECE OF SELFISH PRIDE BETRAYING THE TRUTH?'


previous post related...